Kamis, 08 Agustus 2019

Mulai usang?


Kak
Mendiang rasa ini masih saja tersimpan,
Sajak-sajak nya rapi walau tertumbuk asa.
pilu nya membeku.
terkadang sedikit rapuh.
Menjadi abu yg tampak lusuh.

redup nya pun nyata.
Sesaat sirna ditelan masa.
Bisa saja ini kedaluwarsa,
tapi kebajikan cinta ternyata tak bisa dusta.

angan nya belum padam kak,
bahkan meski berjalan sendirian menuju keburaman.
Kita belum seirama,
Atau tidak akan pernah seirama?.

jiwa egois nya bergejolak.
menikmati perih demi perih yang tak bersebab.
diam paling menyakitkan adalah siapa?
ilalang paling bodoh se antera adalah siapa?

Menjadi baper berkala kah dia?
Atau berpijak pada tempat yang salah?
atau juga hanya sekadar korban ketampanan nya ?

Jadi gimana?

Sabtu, 15 Juni 2019

Sedikit putus

Welcome untuk saya yang akhirnya menulis lagi. Karena jujur, sebenarnya saya menulis hanya jika benar-benar merasakan sehingga tulisan dan rasa itu nyambung, gitu.  Entah apa yang terjadi dengan hati ini yang begitu hambar sejak saya memutuskan untuk berhenti, stop memikirkan dio yang jauh dari ekspetasi. Dhuaar

Tapi gini, bukan melulu tentang Dio. Saya masih terus berproses menuju kedewasaan, untuk lebih bersabar dengan mencoba sedikit tidak berharap apapun yang bukan kuasa saya.

Jujur lagi, cinta itu ternyata memang saaaaangat berpengaruh bagi kehidupan saya. Secara umum sih, mencakup untuk orang-orang disekeliling saya. Keluarga, sepupu-sepupu, anak didik , sampai akhirnya si "kekasih". eit, masih Dio deng. hitam putih jika tidak ada setitik cinta didalamnya.

Tepat 380 hari sejak saya bertemu dengan kamu Dio, doa ku sejak dulu hanya "semoga Tuhan memberi kesempatan untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya". Ternyata sampai hari ini sedikit banyak kita  berjumpa, baik sengaja atau tidak. Dulu saya berada di fase itu bukan kebetulan, pasti ada campur tangan Tuhan. Tapi semakin jauh sampai akhirnya saya menganggap mungkin itu hanya kebetulan. Yasudah lah. Akan saya serahkan segalanya pada Tuhan.

Ramadhan tahun ini banyak berbeda dengan tahun lalu by the way. Tahun ini saya sangat disibukkan dengan kegiatan nganggur di rumah. Tepatnya karena "drop" sampai hampir sepekan. Huh

Untung nya tidak menggebu memikirkan hal yang tidak semestinya. Tetap berusaha posthink ke semuanya. Termasuk kepada Tuhan yang memberi nikmat berupa sakit. Benar-benar diluar sana banyak orang yang merasakan sakit justru terlihat bahagia dengan rasa yang didera nya.

Jadi itu yang membuat saya selalu berusaha menerima taqdir dengan selapang-lapang nya.

Takdir apapun!
Bukan hanya tentang keadaan,tapi juga perasaan. Semua sudah ter-atur. Tinggal bagaimana diri kita menyambut nya dengan Legawa bahkan dengan suka cita.

Selasa, 19 Maret 2019

Cinta salah arah

Memasuki usia 10 bulan rasa ini sebetulnya bukan waktu yang cukup pendek. Rasa yang lumrah ada namun justru tidak mampu menembus cakrawala. Setumpuk rasa hanya mampu terbias oleh dinding angan berkelabut mimpi. Yang jelas tidak mungkin menjadi nyata.
Dari awal berjumpa, bertatapan, berbincang, bertukar pikiran, bertegur sapa yang sepertinya itu sedikit kebetulan atau semacam keberuntungan. Sampai titik dimana mulai malu walau hanya melalui angin sosial media. Disebabkan karna terlalu cepat berasumsi bahwa cinta itu datang nya mudah. Padahal imaji yang terus-terusan menutupi. Memangnya kisah serial drama yang cukup sesaat sudah bisa memiliki dengan sempurna?

Tapi bohong jika orang yang memiliki rasa itu melepas rasa nya dengan cepat? Lalu meng ikhlas kan untuk orang lain? Lalu apakah orang itu tenang hidup dengan penantian sia-sia? Apalagi jika rumor telah beredar luas terngiang-ngiang dikepala. Lalu bagaimana orang itu menghibur diri supaya lupa dengan setiap doa yang dilantunkan dahulu? Meski bayang selalu mengiringi hari-hari.

Ternyata, arah cinta tak pernah salah. Tapi insan itu sendiri yang membuat dia parah. Andai dia tidak segera menjatuhkan harap yang "terlalu" inggi, mungkin sekarang dia tidak merasakan perih karna cinta, tidak pernah mengalami kerinduan yang bukan tugasnya, tidak pernah merasa "tidak dianggab".

Harusnya dia lebih berhati-hati
Lebih menyadarkan diri
Lebih tidak peduli caci
Bukan malah terlihat agresif
Apalagi terlihat pasrah nan lemah.

Kita doakan semoga orang itu cepat sadar dari ketidak sadaran nya.

Minggu, 17 Februari 2019

Memang cinta

Memang benar terkadang Cinta mampu membuat lebih beda dari biasanya, berdegup lebih kencang dari biasanya, lebih banyak tersenyum dari biasanya. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Cinta juga mematahkan asa dengan cepat. Apalagi dalam kondisi tidak saling menguntungkan, tidak saling memahami, tidak saling bertegur sapa, tidak saling mengasihi, bahkan tidak saling tau menau. Sungguh berat, tapi gimana mau dikata? Ternyata masih ada seorang yang mampu bertahan sampai detik ini untuk menguji apakah benar adanya Cinta sejati walau hanya dirasa seorang diri? Apakah benar adanya Cinta diam? Apakah benar adanya memendam cinta? Seolah melalui jalan mulus tak berduri. Padahal tangis selalu membasahi hari yang justru lebih panjang dari yang dikira. Garis akhir bahkan tidak terlihat. Melayak kan mimpi itu tidak dilarang kan?

Seakan baik-baik saja,
Entah ini yang namanya gagal?
Menyerah begitu saja kah?
Apa ini yang dinamakan lelah?
Saat dia ingin menghempas setiap titiknya.
Saat selalu saja dia mengusik ketenangan.
Dasar,
Bayang-bayang payah.

Dalam ketidak pastian yang benar-benar membuat setengah gila. Karna rasanya berlebih atau bahkan memang orang itu sendiri yang membuat kadar nya tumpah meruah?
Sebatas ego kah?
Sehingga menganggab dia sosok tersempurna di dunia, kemudian menyiksa dirinya sendiri lalu berteriak sangat terluka, padahal cermin adalah pelaku nya.

 Ingin berlabuh sejauh mungkin.
Sejauh mata tak lagi bisa memandang dengan jelas.
Hingga terus merubah arah asa kepada orang yang lebih tepat,
Lebih mudah dijangkau.
Sekali lagi supaya lekas berhenti ada harap.

Puncak dari mencintai memang kerelaan.
Rela saat hati dan jiwa didera
Tapi mungkin itu tak salah
Hanya sampai kapan kerelaan itu akan berakhir?
Ironis memang

Sabtu, 01 Desember 2018

Kawah ijen TRIP ( part 2 )

Oke lanjut lagi, 
Kali ini membahas gimana perjalanan sampai Puncak nya.
Start awal dari pendopo selamat datang pendaki gunung ijen sampai ke kawah kira-kira selama 180 menit -+
Pendopo start pendakian kawah ijen

Ada sekitar 5 pos yang akan di temui selama perjalanan. Tapi sayang kamar mandi nya nggak layak, jadi sebelum berangkat terutama buat perempuan-perempuan tangguh kudu dikeluarin semua BAK dan BAB nya. Tissu basah dan air mineral yang cukup juga bisa jadi cadangan sih ketika di tengah perjalanan tiba-tiba kebelet.

Pos 1 ke pos kedua mungkin ditempuh selama setengah jam. Jarak pos-pos selanjutnya aku lupa detail waktunya gimana. Cuma yang masih aku inget pos terakhir yaitu kantin. menandakan kalau gerbang kawah sudah dekat yeeeeee. Jangan lupa ketika dirasa ngos-ngos an segera berhenti jangan dipaksakan. Setelah enakan baru lanjut lagi.

Itulah sebuah proses.
Bersusah dulu bersenang kemudian,
Rapuh dulu bersyukur kemudian,
Lelah dulu nikmat kemudian,
Sakit dulu bahagia kemudian,
Naik dulu turun kemudian, ( yajelas laaah )

Yang pasti adalah jalan nya itu nggak susah. Nggak terlalu mainstream untuk pendaki pemula, perempuan biasa, perempuan syar'i, anak-anak, ibuk, bapak, kakek, nenek dan lain-lain. Karna disitu juga tersedia PAJERO. pajero ini istilah diantara kami bertujuh sebutan untuk jasa bapak pengantar memakai kayu dorongan wehehe. Itu tuh ada dua orang yang narik dan satu bagian belakang untuk mendorong gitu. Jadi jarak sekitar 2km tadi ditempuh dengan kuat dan lelah banget kan pastinya. Harganya kalau naik kira-kira Rp. 750.000.00 , kemudian kalau turun sekitar Rp. 250.000.00 per dorongan. Untuk harga terbaru bulan kemarin. Setara sih menurutku dengan perjuangan si bapak - bapak yang nganter. Nggak tega gitu loh. Awas aja kalo anak nya durhaka ma bapak nya. Perjuangan nya totalitas hum
Gitu tuh jalan nya

Di jalan selalu rame, apalagi kemarin bertepatan di hari sabtu yang which is itu weekend. Nggak usah takut bakal ada genduruwo apalagi tuyul ;)

Salah satu perbedaan antara gunung ijen dan gunung lain itu orang-orang nya nggak terlalu care. Jarang banget ada yang nyapa. Nggak bakal nyapa kalau nggak disapa. Itupun kayak nggak ikhlas gitu nanggepin nya. Padahal waktu lalu di gunung buthak- Malang pendakinya ramah-ramah. Setiap ketemu dengan yang lain selalu bertegur sapa berasa kayak tetangga sebelah kalau lagi main. Nanya asal lah, nyemangatin lah, atau sekedar ngomong "ati-ati mbak, mas".
Jadi ngerasa asing gitu di sini, ditambah bule nya banyak banget.

Setelah jumpa pos terakhir kantin. Berasa banget seneng nya. Padahal nyampe aja belum. Dari perjalanan kantin ke Puncak banyak yang udah nawarin masker khusus melihat blufire. Karna masker biasa nggak bakal ampuh dengan sengatan bau kawahnya. Harganya sekitar Rp. 25.000.00 per kepala. Tapi setelah nyampe di gerbang kawahnya juga lebih banyak lagi sih yang nawarin masker untuk bluefire nya. Lalu ketika sudah seperempat hampir ke titik gerbang kawah selalu terlihat senter-senter pendaki gunung meranti. Gunung tepat di sebelah kawah ijen ini. Lucuuu pasti senter kami terlihat juga dari sana hehe

Daaaan akhirnya sampai juga di gerbang kawah ijen. Pukul 04.00 wib masih sangat gelap disana. Angin masih mencakar ganas huy duingiiin sekali. Segera mencari tempat berlindung di lubang panjang tanah hehe. Saking nggak betah dengan udaranya kami memutuskan untuk tidur sampe dirasa agak kuat untuk bertahan dari para angin jahat.
Berani kotor itu sehat tauk.

Bluefire sih sebenarnya dapet, yaa cuma karna udah nggak betah sama angin jadi udah deh nggak papa next time aja lagi liatnya. Dari pada bisa turun terus nggak mampu naik gimane? ( Btw blufire di tempuh dengan menuruni ke dasar kawah ).

Tepat pukul 05.40 wib aku terbangun. Segera ku naik dan seketika itu juga jeng jeng jeeeenggg "mashaallah, aaaaaaaaaaaah kereeeeen"
Seneng, bahagia, nggak nyangka, kudu nangis, takjub, dan lega banget intinya.
View di depan auto ada kawah yang warna nya seger pol, kesebelah kanan masih ada jalan lagi Puncak gunung ijen, ke belakang ada hamparan tumbuhan cantik, dan ke sebelah kiri ada tumpukan awan milik meranti dan ada jalan menuju Puncak juga. Wallah bersyukur sekali bisa menginjakan kaki kesini. Penat yang nggak sia-sia, melawan dingin juga nggak sia-sia. Pokoknya kawah ijen berhasil membuat aku lebih Cinta tuhan. Bahwa tuhan pasti mendengar doa hambanya yang berusaha agar mendapat jodoh dan takdir yang baik. Eh apa hubungan nya?  Humm.
View di depan langsung gini uh
View  sebelah kanan

View di belakang
View sebelah kanan

Hampir mau nyampe kawah 

Walau belum Puncak, di titik itu saja aku sudah mendapat imbas dari keluhan-keluhan tadi. Gimana dengan yang sampe ke puncak nya, terus ke bawah liat bluefire nya juga ya?  Pasti double dong kebahagiaan nya.

Ketika di atas, para bule jarang terlihat sudah. Entah mereka kemana wkwk. Keadaan nggak serame waktu di jalan juga jadi nyaman lah teriak-teriak nggak jelas.

Santai, berfoto ria, sambil memanaskan diri sampai pukul 08.00 wib. Pingin banget tinggal disitu. Secara view nya dapet banget looh. Cuma yang bikin kesel itu angin. Super hembusan nya khawatir nyeret badan.

Disana jangan pake baju putih, Pokok nya jangan pake yang putih. Debunya banyak soal e jadi gampang kotor. Kawah ijen is my favorite place. Harus datang ke sini asli. Recomended parah. Apalagi kalo yang seneng hunting pake photographer handal uh bakal Bagus banget pasti hasil shoot nya.

Setelah lumayan lama berjemur disana, akhir nya turun lah kami ke lapangan pemukiman tenda. Nggak bisa cerita banyak sih. Intinya setelah turun hati tuh riang gembira. Jalanan udah nggak terlalu rame kaya tadi malem. Bahkan berasa milik sendiri. Musti waspada. Lebih enak kalo pake sepatu asli gunung. Posisi saat menurun itu kaki agak serong, jadi dia nggak bakal terpeleset. Gitu dehh. Siap-siap setelah turun langsung mandi ya pasti badan udah kotor semua. Abis mandi terus makan abis itu istirahat deh. Pulihin energi hehe.
Okkeee selesaaaii terimakasiiih semoga nyambung semoga yang belum kesana segera bisa tercapai untuk menjajah kawah ijen;)
Segrup nih

Copyright © Rica Sevtia
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas