Selasa, 19 Maret 2019

Cinta salah arah

Memasuki usia 10 bulan rasa ini sebetulnya bukan waktu yang cukup pendek. Rasa yang lumrah ada namun justru tidak mampu menembus cakrawala. Setumpuk rasa hanya mampu terbias oleh dinding angan berkelabut mimpi. Yang jelas tidak mungkin menjadi nyata.
Dari awal berjumpa, bertatapan, berbincang, bertukar pikiran, bertegur sapa yang sepertinya itu sedikit kebetulan atau semacam keberuntungan. Sampai titik dimana mulai malu walau hanya melalui angin sosial media. Disebabkan karna terlalu cepat berasumsi bahwa cinta itu datang nya mudah. Padahal imaji yang terus-terusan menutupi. Memangnya kisah serial drama yang cukup sesaat sudah bisa memiliki dengan sempurna?

Tapi bohong jika orang yang memiliki rasa itu melepas rasa nya dengan cepat? Lalu meng ikhlas kan untuk orang lain? Lalu apakah orang itu tenang hidup dengan penantian sia-sia? Apalagi jika rumor telah beredar luas terngiang-ngiang dikepala. Lalu bagaimana orang itu menghibur diri supaya lupa dengan setiap doa yang dilantunkan dahulu? Meski bayang selalu mengiringi hari-hari.

Ternyata, arah cinta tak pernah salah. Tapi insan itu sendiri yang membuat dia parah. Andai dia tidak segera menjatuhkan harap yang "terlalu" inggi, mungkin sekarang dia tidak merasakan perih karna cinta, tidak pernah mengalami kerinduan yang bukan tugasnya, tidak pernah merasa "tidak dianggab".

Harusnya dia lebih berhati-hati
Lebih menyadarkan diri
Lebih tidak peduli caci
Bukan malah terlihat agresif
Apalagi terlihat pasrah nan lemah.

Kita doakan semoga orang itu cepat sadar dari ketidak sadaran nya.

4 komentar:

  1. Ah, terlalu berharap lalu tidak menjadi kenyataan memanglah menyebalkan... :’)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangatt, sangaat!
      Rasanya tiada hari tanpa merasa terdera.

      Hapus
  2. Salam kunjungan dan follow sini ya :)

    BalasHapus

Copyright © Rica Sevtia
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas