Jumat, 20 April 2018

Taqdir lain?

Sekitar 6 bulan lalu aku menyudahkan pendidikan menengah keatas, sampai akhirnya di beberapa hari kedepan mendengar berita yg sangat menyedihkan, --maaf, anda ditolak kuliah di u**** dan i***-- bahasa faktanya gitu kan, ditambah komentar ibuku "gapapa, bisalah dibuat ngajar-ngajar ngaji di rumah, itung - itung manfaat in ilmunya ya masa mau mondok lagi, sekarang waktunya ngamalin ilmu mbak, uda mateng kok mondoknya"
Oke fix, lulus aliyah ga langsung kuliah--pusing daftar kuliah tepatnya, karna yg lain masi sibuk ngejar kampus impian mereka.

Jelang lebaran mudik ke pedalaman tempat ayah dilahirkan dulu,
Intinya, disitu aku mulai menginjak karir sebagai guru , yah walaupun guru berbasis keAKHIRATan. Suatu taqdir yg bener bener okey, trimakasih allah ku, engkau selalu tau mana yg pantas untuk ku. Bersyukur tiada henti sampe detik ini juga, anak yang kadang patuh kadang acuh sama aturan, buat semakin belajar dengan betul pastinya. yg S1 aja belum tentu jebol, lah kamu!! Lulusan aliyah plus dulu disekolahnya ga pernah becus la kok bisa keterima, tanpa ijazah pula ? 'Kata sang hati yg memprotes'
Si ibu bahagia, seneng, karna anaknya berhasil manfaatkan ilmunya ditambah dapet pesangon yg lumayan buat beli make up sendiri.

Nah udah itu, seiring berjalan nya waktu, 'aku pingin kuliah di kampus surabaya buk, ngambil jurusan manajemen'
"Uda taqdir mu jadi guru disana nak toh itu nambah pemasukan juga, kuliah sabtu minggu aja jurusan pgsd"
Yaaaa, aku cari cari bahan lagi, mencari sesuatu yg dapat meyakinkan dan membujuk ku agar patuh sama amanah sang ibu

Balik lagi ke waktu, semakin cepat semakin jauh waktu berjalan.
Ketika aku sudah ingin membuka hati untuk kuliah sabtu minggu dan pgsd nya,
"Coba cari info masuk kampus Surabaya"
'Loh buk? '
"Ibu ga tega, kamu jauh dari orang tua, kamu perempuan lagi, "

Sungguh hidup itu penuh dengan segala ujian nya, penuh dengan lika liku yg hampir aja kutempuh dengan lurus.
Apa harus move ketempat lain Ketika uda nyaman ditempat baru?  Orang tua segalanya, tapi apa harus melawan taqir?  Atau akan ada taqdir baru untuk ku?
Entahlah, sedang ada dititik kebingungan penuh..dimana semua tertuju ke masa depan cerah ku esok. Akan kah aku terus terombang ambing dengan keadaan seperti ini?
Atau aku harus memilih salah satu, yg betul2 terbaik dan yaa emang itu jalan satu satu nya caaa ricaaa.  Huft
*Gunakan akal sehat, pelan pelan, ikhlas kan dan tawakkal.*
Hanya allah ku yg bisa bantu ,insyaallah ada jalan.

0 comments:

Posting Komentar

Copyright © Rica Sevtia
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas