Memang benar terkadang Cinta mampu membuat lebih beda dari biasanya, berdegup lebih kencang dari biasanya, lebih banyak tersenyum dari biasanya. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Cinta juga mematahkan asa dengan cepat. Apalagi dalam kondisi tidak saling menguntungkan, tidak saling memahami, tidak saling bertegur sapa, tidak saling mengasihi, bahkan tidak saling tau menau. Sungguh berat, tapi gimana mau dikata? Ternyata masih ada seorang yang mampu bertahan sampai detik ini untuk menguji apakah benar adanya Cinta sejati walau hanya dirasa seorang diri? Apakah benar adanya Cinta diam? Apakah benar adanya memendam cinta? Seolah melalui jalan mulus tak berduri. Padahal tangis selalu membasahi hari yang justru lebih panjang dari yang dikira. Garis akhir bahkan tidak terlihat. Melayak kan mimpi itu tidak dilarang kan?
Seakan baik-baik saja,
Entah ini yang namanya gagal?
Menyerah begitu saja kah?
Apa ini yang dinamakan lelah?
Saat dia ingin menghempas setiap titiknya.
Saat selalu saja dia mengusik ketenangan.
Dasar,
Bayang-bayang payah.
Dalam ketidak pastian yang benar-benar membuat setengah gila. Karna rasanya berlebih atau bahkan memang orang itu sendiri yang membuat kadar nya tumpah meruah?
Sebatas ego kah?
Sehingga menganggab dia sosok tersempurna di dunia, kemudian menyiksa dirinya sendiri lalu berteriak sangat terluka, padahal cermin adalah pelaku nya.
Ingin berlabuh sejauh mungkin.
Sejauh mata tak lagi bisa memandang dengan jelas.
Hingga terus merubah arah asa kepada orang yang lebih tepat,
Lebih mudah dijangkau.
Sekali lagi supaya lekas berhenti ada harap.
Puncak dari mencintai memang kerelaan.
Rela saat hati dan jiwa didera
Tapi mungkin itu tak salah
Hanya sampai kapan kerelaan itu akan berakhir?
Ironis memang
Seakan baik-baik saja,
Entah ini yang namanya gagal?
Menyerah begitu saja kah?
Apa ini yang dinamakan lelah?
Saat dia ingin menghempas setiap titiknya.
Saat selalu saja dia mengusik ketenangan.
Dasar,
Bayang-bayang payah.
Dalam ketidak pastian yang benar-benar membuat setengah gila. Karna rasanya berlebih atau bahkan memang orang itu sendiri yang membuat kadar nya tumpah meruah?
Sebatas ego kah?
Sehingga menganggab dia sosok tersempurna di dunia, kemudian menyiksa dirinya sendiri lalu berteriak sangat terluka, padahal cermin adalah pelaku nya.
Ingin berlabuh sejauh mungkin.
Sejauh mata tak lagi bisa memandang dengan jelas.
Hingga terus merubah arah asa kepada orang yang lebih tepat,
Lebih mudah dijangkau.
Sekali lagi supaya lekas berhenti ada harap.
Puncak dari mencintai memang kerelaan.
Rela saat hati dan jiwa didera
Tapi mungkin itu tak salah
Hanya sampai kapan kerelaan itu akan berakhir?
Ironis memang